Kategori: Teknologi

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Menjadi Robot Di Togo, Banyak anggapan bahwa sampah elektronik menjadi sebuah bencana. Asumsi itu dirubah oleh penemu di Republik Togo menjadi sebuah tambang emas dengan mengolah sampah elektronik menjadi robot.

Togo setiap tahun mengimpor sekitar 500.000 ton sampah elektronik, diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Tetapi, kemudian peneliti lokal mempunyai inspirasi dan inovasi untuk membuka lapangan kerja baru.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Meupakan Peluang Bisnis Baru

Sampah elektronik yang berserakan di jalanan awalnya menjadi suatu masalah, tetapi kini banyak penemu di Togo yang merubahnya menjadi sebuah peluang baru.

Sampah-sampah itu disulap menjadi sebuah robot berbentuk laba-laba.

Robot tersebut dari barang bekas elektronik yang tak terpakai lagi, tangan dan kakinya dibuat dari bahan mesin printer. Proses cara pembuatan ini juga dilihat dari internet.

Foli Bebe, salah satu penemunya membawa hasil karyanya (robot) ke sekolah-sekolah untuk menarik minat para siswa dalam mengolah barang bekas menjadi inovasi baru di bidang sains.

Menurut penjelasannya, harapan ke depannya supaya lebih banyak lagi yang dapat menciptakan karya hasil ciptaan sendiri dan mampu menyelesaikan masalah yang ada.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Dari Pencipta Karya

Para penemu dan pencipta karya dari barang bekas membangun bengkel di dekat lokasi pengepulan sampah elektronik.

Lokasi yang dekat mempermudah mereka untuk mengambil dan memilah barang sesuai dengan proyek inovasi yang akan dibuat.

Lahan ini juga ditempati oleh banyak pendaur ulang untuk berkolaborassi dalam menciptakan karyanya.

Gnikou Afate, dikenal sebagai pencipta pertama printer 3D di Togo. Mesin buatan Afate ini sempat berhasil menjadi juara utama dalam acara konferensi Teknologi Fabrikasi di Barcelona tahun 2015.

Dari penemuan ini kini banyak lapangan kerja baru yang diciptakan untuk mengembangkan usaha mereka di bidang ini.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Inovasi dari Sampah Elektronik

Sampah elektronik merupakan barang-barang elektronik yang telah dibuang oleh pemiliknya. Di tahun 2016, sampah ini mencapai 40 juta ton dan sekitar 20 persen yang hanya di daur ulang. Diperkirakan pada tahun 2021 sampah elektronik mengalami peningkatan hingga 52,2 juta ton. Negara-negara lain tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan barang bekas elektroniknya, sementara Afrika memiliki tempat yang menampung barang barang bekas elektronik.

Masalah yang lain muncul seperti bekas elektronik semisal TV- yang di dalamnya banyak mengandung timah, brilium, kadmium yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Apalagi jika kandungan tersebut mencemari lingkungan di air, sementara mereka juga mengonsumsi hasil tangkapan ikan dari laut.

Zat-zat yang banyak mengandung merkuri itu berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak mereka yang masih proses pertumbuhan dan perkembangan.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Menjadi Robot Di Togo

Meskipun demikian, upaya untuk mengatur sampah elektronik menjadi sebuah tantangan dan banyak para warga yang bergantung padanya.

Banyaknya sampah elektronik ini harus dapat dipilah dengan cermat karena tidak semua sampah bisa digunakan, banyak juga sampah yang berbahaya dan beracun.

Para inovator yang akan menyulap menjadi robot juga masih mencoba untuk meminimalisir paparan zat berbahaya yang ditimbulkan dari sampah tersebut. Uji coba ini harapan ke depannya bisa diberlakukan di seluruh daerah Togo.

Masalah sampah ini bisa menjadi sebuah industri yang menawarkan potensi lapangan kerja yang luar biasa. Sampah elektronik bisa menjadi nilai jual tinggi tergantung cara pengolahannya menjadi suatu barang baru.

Manfaat lainnya bisa menjadi revolusi baru di bidang sains dengan inovasi di bidang teknologi. Selain itu, pengelolaan sampah ini juga dapat mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

Para penemu dan pengusaha masih mencoba memaksimalkan potensi yang ada dengan pemecahan solusi yang tepat dan meminimalisir bahaya yang ditimbulkan.

Facebook menyebutkan bahwa data yang telah dibocorkan secara tak patut pada lembaga konsultan politik, Cambridge Analytica, mencapai paling tidak 87 orang. Jumlah ini pasalnya lebih banyak dari yang sebelumnya pernah terungkap. Dan sekitar 1,1 juta pengguna itu berasal dari Indonesia.

Sebelumnya, jumlah pengguna yang mana disebut oleh orang yang membongkar kasus ini yakni Christopher Wylie, Cuma menyebutkan angka 50 juta.

Panggil Facebook

Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi, mengatakan akan memanggil Facebook Indonesia. “Saya sudah telepon perwakilan Facebook dan juga memanggilnya untuk bertemu sore nanti,” ungkapnya dilansir dari BBC Indonesia. ia menambahkan, “Kami sedang meminta angka yang pasti (data pengguna yang bocor). Terlepas dari hasilnya nanti, penggunaan data yang tak proper oleh PSE dapat melanggar Peraturan Menteri Kominfo soal Perlindungan Data Pribadi ataupun UU ITE juga.”

Ia juga menyebutkan, sangsinya sendiri bisa sampai 12 tahun penjara dan juga denda sampai dengan jumlah 12 Milyar Rupiah. “Kami juga sudah mulai koordinasi dengan teman-teman POLRI untuk mengantisipasi diperlukannya penegakan hukum result hongkong yang secepatnya,” katanya lagi.

Klarifikasi Facebook

Dalam konferensi pers yang digelar kemarin, Rabu (4/4), Pimpinan dari Faceboo, Mark Zuckerberg mengatakan bahwa sebelumnya dirinya berasumsi bahwa apabila Facebook memberikan suatu perangkat pada orang-orang, adalah tanggung jawab mereka untuk memutuskan bagaimana mereka bakal menggunakannya. Namun ia juga menambahkan bahwa “setelah sering kali mengkajinya kembali”, dirinya merasa pandangan tersebut sempit dan salah.

“Jelas sekali bahwa kami seharusnya memang bertindak lebih dari yang dilakukan, dan itu yang bakal kami lakukan untuk ke depannya,” ungkapnya. “Hari ini, berdasarkan informasi yang kami ketahui…Saya rasa kami mengerti bahwa kami perlu mengemban tanggung jawab kami secara lebih luas lagi,” imbuhnya.

“Bahwa kami tak hanya membuat suatu perangkat, namun kami juga perlu bertanggung jawab penuh akan bagaimana orang-orang menggunakan alat tersebut.”

Zuckerberg juga mengumumkan bahwa audit internal sudah mengungkap suatu masalah yang baru. Aktor-aktor berniat jahat pasalnya telah menyalahgunakan fitur yang mana memungkinkan pengguna mencari sesame pengguna dengan cara memasukkan pos-el (email) atau juga nomor telepon di kolom pencarian dalam platform berwarna biru tersebut.

Hasilnya banyak sekali informasi profil public yang telah “disalin” dan akhirnya juga dicocokkan dengan detail kontak, yang mana didapatkan dari sumber lain. Kini, pihak Facebook telah memblokir fasilitas itu. “Wajar saja jika pengaturan (dasar) tersebut Anda biarkan menyala. Maka dalam beberapa tahun ke belakang, orang mungkin saja mengakses informasi public Anda dengan cara seperti ini.” tukas Zuckerberg.

Angka Terbaru

Perkiraan yang paling baru soal jumlah orang yang mana datanya sudah terekspos diungkap dalam blog yang mana ditulis Mike Schroepfer, Kepala Teknologi Facebook. Dikutip dari BBC Indonesia juga diketahui Facebook saat ini memperkirakan kira-kira 305.000 orang yang telah memasang aplikasi kuis “This Is Your Digital Life” yang mana memungkinkan permanenan data itu. angka perkiraan yang sebelumnya adalah 270.000.

Sekitar kurang lebih 97% pengguna yang memasang aplikasi itu berada di AS. Akan tetapi, lebih dari 16 juta dari total penggunanya yang terdampak diduga berasal dari beberapa negara yang lainnya.

Atas hal ini, Facebook mendapatkan kritik keras setelah terungkap bahwa perusahaan itu mengetahui selama bertahun-tahun lamanya bahwa Cambridge Analytica sudah memanenkan data pribadi dari jutaan penggunanya, tapi menyerahkan pada Cambridge Analytica sepenuhnya untuk menghapus informasi itu.