Bulan: Desember 2018

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Menjadi Robot Di Togo, Banyak anggapan bahwa sampah elektronik menjadi sebuah bencana. Asumsi itu dirubah oleh penemu di Republik Togo menjadi sebuah tambang emas dengan mengolah sampah elektronik menjadi robot.

Togo setiap tahun mengimpor sekitar 500.000 ton sampah elektronik, diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Tetapi, kemudian peneliti lokal mempunyai inspirasi dan inovasi untuk membuka lapangan kerja baru.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Meupakan Peluang Bisnis Baru

Sampah elektronik yang berserakan di jalanan awalnya menjadi suatu masalah, tetapi kini banyak penemu di Togo yang merubahnya menjadi sebuah peluang baru.

Sampah-sampah itu disulap menjadi sebuah robot berbentuk laba-laba.

Robot tersebut dari barang bekas elektronik yang tak terpakai lagi, tangan dan kakinya dibuat dari bahan mesin printer. Proses cara pembuatan ini juga dilihat dari internet.

Foli Bebe, salah satu penemunya membawa hasil karyanya (robot) ke sekolah-sekolah untuk menarik minat para siswa dalam mengolah barang bekas menjadi inovasi baru di bidang sains.

Menurut penjelasannya, harapan ke depannya supaya lebih banyak lagi yang dapat menciptakan karya hasil ciptaan sendiri dan mampu menyelesaikan masalah yang ada.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Dari Pencipta Karya

Para penemu dan pencipta karya dari barang bekas membangun bengkel di dekat lokasi pengepulan sampah elektronik.

Lokasi yang dekat mempermudah mereka untuk mengambil dan memilah barang sesuai dengan proyek inovasi yang akan dibuat.

Lahan ini juga ditempati oleh banyak pendaur ulang untuk berkolaborassi dalam menciptakan karyanya.

Gnikou Afate, dikenal sebagai pencipta pertama printer 3D di Togo. Mesin buatan Afate ini sempat berhasil menjadi juara utama dalam acara konferensi Teknologi Fabrikasi di Barcelona tahun 2015.

Dari penemuan ini kini banyak lapangan kerja baru yang diciptakan untuk mengembangkan usaha mereka di bidang ini.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Inovasi dari Sampah Elektronik

Sampah elektronik merupakan barang-barang elektronik yang telah dibuang oleh pemiliknya. Di tahun 2016, sampah ini mencapai 40 juta ton dan sekitar 20 persen yang hanya di daur ulang. Diperkirakan pada tahun 2021 sampah elektronik mengalami peningkatan hingga 52,2 juta ton. Negara-negara lain tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan barang bekas elektroniknya, sementara Afrika memiliki tempat yang menampung barang barang bekas elektronik.

Masalah yang lain muncul seperti bekas elektronik semisal TV- yang di dalamnya banyak mengandung timah, brilium, kadmium yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Apalagi jika kandungan tersebut mencemari lingkungan di air, sementara mereka juga mengonsumsi hasil tangkapan ikan dari laut.

Zat-zat yang banyak mengandung merkuri itu berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak mereka yang masih proses pertumbuhan dan perkembangan.

Peluang Bisnis Menyulap Sampah Menjadi Robot Di Togo

Meskipun demikian, upaya untuk mengatur sampah elektronik menjadi sebuah tantangan dan banyak para warga yang bergantung padanya.

Banyaknya sampah elektronik ini harus dapat dipilah dengan cermat karena tidak semua sampah bisa digunakan, banyak juga sampah yang berbahaya dan beracun.

Para inovator yang akan menyulap menjadi robot juga masih mencoba untuk meminimalisir paparan zat berbahaya yang ditimbulkan dari sampah tersebut. Uji coba ini harapan ke depannya bisa diberlakukan di seluruh daerah Togo.

Masalah sampah ini bisa menjadi sebuah industri yang menawarkan potensi lapangan kerja yang luar biasa. Sampah elektronik bisa menjadi nilai jual tinggi tergantung cara pengolahannya menjadi suatu barang baru.

Manfaat lainnya bisa menjadi revolusi baru di bidang sains dengan inovasi di bidang teknologi. Selain itu, pengelolaan sampah ini juga dapat mengatasi masalah yang ada di masyarakat.

Para penemu dan pengusaha masih mencoba memaksimalkan potensi yang ada dengan pemecahan solusi yang tepat dan meminimalisir bahaya yang ditimbulkan.